Hari TBC Sedunia, TBC Ada Di Sekitar Kita!

Kim Layang Kumitir РHari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) yang diperingati pada tanggal 24 Maret setiap tahun dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat, bahwa Tuberkulosis (TBC) sampai saat ini masih menjadi epidemik dunia dan penyebab kematian nomor satu diantara penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis.

Bakteri ini dikategorikan sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA). Secara global pada tahun 2016 terdapat 10,4 juta kasus insiden penyakit TB atau dengan kata lain sebanyak 220 kasus per 100.000 penduduk. Indonesia termasuk kedalam lima negara dengan kasus TB tertinggi kedua setelah India, disusul oleh negara China, Philipina dan Pakistan.

Jumlah kasus baru TB di Indonesia sebanyak 420.994 kasus pada tahun 2017 (data per 17 Mei 2018). Berdasarkan survei Prevalensi Tuberkulosis kejadian TB paru pada laki-laki 3 kali lebih tinggi dibandingkan pada perempuan. Hal ini terjadi kemungkinan karena laki-laki lebih terpapar pada faktor risiko TB, misalnya merokok, kurangnya kewaspadaan dan kurangnya kepatuhan minum obat.

Faktor risiko penyakit TB paru mengenai orang-orang yang memiliki kontak dengan seorang pengidap TB paru dalam jangka waktu yang lama dan dalam frekuensi yang sering. Selain itu penyakit TB paru lebih rentan mengenai orang yang mengidap penyakit yang dapat mempengaruhi kekebalan tubuh seperti kanker, diabetes melitus, HIV/AIDS atau penyakit menahun lainnya. Serta pada orang yang mengkonsumsi obat yang dapat mempengaruhi kekebalan tubuh seperti kortikosteroid, siklosporin dan obat kemoterapi.

Gejala utama pasien TB paru yaitu batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur dengan darah, demam meriang selama 2 minggu atau lebih, sesak nafas, nyeri dada, keringat malam tanpa aktivitas fisik, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun.

Apabila terdapat gejala-gejala berikut seseorang harus memeriksakan dirinya ke fasilitas kesehatan terdekat. Pemeriksaan yang dapat menegakkan diagnosis TB paru antara lain dengan dilakukan pemeriksaan dahak, dan rontgen dada.

Oleh karena itu penting diketahui oleh masyarakat luas bahwa penyakit TB disebabkan oleh kuman, bukan penyakit keturunan atau kutukan sebagaimana yang beredar di sebagian masyarakat. Penyakit TB dapat disembukan dengan berobat teratur. Penting untuk diketahui cara penularan serta pencegahannya agar terhindar dari penyakit TB. Serta dibutuhkan dukungan PMO agar meningkatkan kepatuhan minum obat pengidap TB agar mencegah komplikasi penyakit TB.

Mari kita cegah penyakit TB Paru dengan menerapkan kebiasaan etika batuk yang benar. Etika batuk merupakan salah satu penerapan Kewaspadaan Standar (Universal Precaution) yang dikembangkan saat munculnya penyakit severe acute respiratory syndrome (SARS).(riska/lines)